Banyak importir pemula menilai kelayakan produk hanya dari harga supplier. Padahal, harga yang tercantum di marketplace atau invoice supplier belum tentu mencerminkan biaya sebenarnya sampai barang tiba di Indonesia. Misalnya, supplier China menawarkan produk seharga 50 RMB per unit. Dengan asumsi kurs Rp2.300 per RMB, harga produknya terlihat sekitar Rp115.000. Jika produk tersebut dijual di Indonesia seharga Rp200.000, sekilas terdapat selisih Rp85.000. Namun, apakah selisih tersebut benar-benar keuntungan? Belum tentu.
Dalam proses impor, masih ada biaya pengiriman, biaya domestik di negara asal, asuransi, bea dan pajak yang berlaku, clearance, handling, hingga pengiriman ke gudang. Karena itu, cara menghitung landed cost produk impor perlu dipahami sebelum menentukan harga jual atau melakukan pemesanan dalam jumlah besar. Landed cost adalah total biaya yang diperlukan untuk membawa produk dari supplier hingga tiba di lokasi tujuan. Perhitungannya dapat mencakup harga barang, freight, asuransi, bea dan pajak yang berlaku, biaya clearance, handling, hingga pengiriman ke lokasi tujuan. (DP World)
Dengan mengetahui landed cost, importir dapat menghitung HPP secara lebih realistis, memperkirakan margin, membandingkan supplier, dan menilai apakah sebuah produk memang layak untuk diimpor.
Apa Itu Landed Cost dalam Impor?
Secara sederhana, landed cost adalah total biaya produk setelah seluruh biaya pengadaan dan pengiriman sampai ke lokasi tujuan diperhitungkan. Jadi, landed cost bukan hanya harga supplier.
Rumus sederhananya adalah:
Landed Cost = Harga Barang + Biaya Pengiriman + Biaya Impor + Biaya Tambahan sampai Lokasi Tujuan
Komponen biaya dapat berbeda tergantung jenis barang, metode pengiriman, skema transaksi, negara asal, lokasi tujuan, dan pihak yang menanggung biaya tertentu.
Namun, tujuan perhitungannya tetap sama, yaitu mengetahui:
“Berapa sebenarnya biaya yang saya keluarkan sampai produk tiba dan siap diterima?”
Angka tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menghitung HPP produk impor, menentukan harga jual, dan memperkirakan keuntungan.
Mengapa Cara Menghitung Landed Cost Produk Impor Itu Penting?
Kesalahan menghitung biaya impor dapat membuat importir merasa memperoleh keuntungan besar, padahal margin sebenarnya jauh lebih kecil.
Misalnya:
Harga supplier = Rp100.000
Harga jual = Rp180.000
Jika hanya melihat dua angka tersebut, importir mungkin menghitung:
Rp180.000 − Rp100.000 = Rp80.000
Namun, setelah ditambahkan biaya pengiriman, handling, dan biaya lain, total biaya produk bisa menjadi Rp130.000.
Maka selisih sebenarnya adalah:
Rp180.000 − Rp130.000 = Rp50.000
Jika masih ada biaya marketplace, iklan, packaging, diskon, retur, dan operasional, keuntungan bersih dapat menjadi lebih kecil lagi. Itulah alasan mengapa perhitungan landed cost penting. Landed cost membantu memisahkan antara harga beli dari supplier dan biaya sebenarnya untuk mendapatkan produk sampai lokasi tujuan.
Harga Supplier Bukan HPP Produk Impor
Harga supplier hanya merupakan salah satu komponen dalam perhitungan biaya impor. Angka tersebut belum tentu menjadi HPP akhir.
Misalnya supplier menawarkan harga:
100 RMB per unit
Dengan asumsi kurs Rp2.300 per RMB:
100 × Rp2.300 = Rp230.000
Kemudian terdapat biaya logistik dan biaya terkait lainnya sebesar Rp50.000 per unit.
Maka biaya produk sampai lokasi tujuan secara sederhana menjadi:
Rp230.000 + Rp50.000 = Rp280.000
Jadi, jangan menganggap produk tersebut memiliki HPP Rp230.000 hanya karena supplier menjualnya dengan harga 100 RMB. Untuk mengetahui HPP yang lebih realistis, Anda perlu menghitung seluruh biaya yang muncul sampai barang tiba di gudang atau lokasi tujuan.
Komponen Biaya dalam Landed Cost Produk Impor
Sebelum menghitung landed cost, identifikasi seluruh komponen biaya yang mungkin muncul dalam proses impor.
1. Harga Produk dari Supplier
Harga produk merupakan biaya yang dibayarkan kepada supplier.
Misalnya Anda membeli:
500 unit × 100 RMB = 50.000 RMB
Jika kurs yang digunakan adalah Rp2.300 per RMB:
50.000 × Rp2.300 = Rp115.000.000
Nilai tersebut menjadi dasar perhitungan awal, tetapi belum mencerminkan total biaya impor.
2. Biaya Pengiriman dari China ke Indonesia
Biaya pengiriman internasional merupakan salah satu komponen terbesar dalam landed cost.
Metode pengiriman dapat berupa air cargo atau sea cargo. Besarnya biaya dapat dipengaruhi oleh:
- Berat barang.
- Volume barang.
- Jenis produk.
- Rute pengiriman.
- Pelabuhan atau bandara tujuan.
- Layanan yang digunakan.
- Ketentuan pengiriman.
- Waktu pengiriman.
Produk dengan harga supplier murah belum tentu menghasilkan landed cost rendah jika biaya logistiknya tinggi.
3. Biaya Pengiriman Domestik di China
Dalam beberapa transaksi, supplier tidak berada di lokasi gudang konsolidasi. Barang perlu dikirim terlebih dahulu dari lokasi supplier menuju gudang atau titik pengumpulan.
Biaya pengiriman domestik di China juga perlu dimasukkan ke dalam perhitungan, terutama jika supplier berada di kota atau provinsi yang berbeda.
Walaupun nilainya terlihat kecil, biaya tersebut dapat memengaruhi landed cost jika jumlah barang sedikit atau jarak pengirimannya jauh.
4. Biaya Konsolidasi dan Repacking
Jika Anda membeli dari beberapa supplier, barang mungkin perlu dikumpulkan di satu gudang sebelum dikirim ke Indonesia.
Biaya yang mungkin muncul antara lain:
- Biaya konsolidasi.
- Biaya pemeriksaan barang.
- Biaya repacking.
- Biaya penyimpanan.
- Biaya pemisahan atau penggabungan paket.
Komponen ini perlu diperhitungkan jika Anda menggunakan layanan gudang atau pengiriman konsolidasi.
5. Asuransi Pengiriman
Jika Anda menggunakan perlindungan asuransi, biaya tersebut dapat menjadi bagian dari total biaya pengadaan. Asuransi bertujuan memberikan perlindungan terhadap risiko tertentu selama perjalanan, sesuai dengan cakupan polis atau layanan yang digunakan.
Besarnya biaya asuransi dapat bergantung pada nilai barang, jenis produk, rute, dan ketentuan perlindungan.
6. Bea, Pajak, dan Pungutan Impor
Untuk impor resmi, dapat terdapat bea, pajak, atau pungutan lain sesuai dengan jenis barang, klasifikasi, nilai transaksi, serta ketentuan yang berlaku.
Besarnya biaya tidak dapat disamaratakan untuk semua produk. Karena itu, importir perlu memastikan klasifikasi barang dan ketentuan yang berlaku sebelum melakukan pemesanan.
Jangan menggunakan asumsi biaya yang sama untuk semua jenis produk karena karakteristik dan aturan setiap barang dapat berbeda.
7. Biaya Clearance dan Handling
Dalam proses pengiriman, dapat muncul biaya yang berkaitan dengan clearance, administrasi, handling, pemeriksaan, atau layanan lainnya.
Biaya ini sering terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, jika digabungkan dengan komponen lain, nilainya dapat memengaruhi total landed cost.
8. Pengiriman dari Titik Kedatangan ke Gudang
Jika tujuan akhir perhitungan adalah gudang bisnis di Indonesia, biaya dari pelabuhan atau bandara hingga gudang juga perlu diperhitungkan.
Dengan memasukkan biaya ini, landed cost akan lebih menggambarkan biaya sebenarnya untuk mendapatkan produk di lokasi yang siap digunakan atau dijual.
Rumus Sederhana Cara Menghitung Landed Cost Produk Impor
Rumus dasar yang dapat digunakan adalah:
Total LandedCost = Nilai Barang + Biaya Pengiriman + Asuransi + Bea dan Pajak + Clearance + Handling + Biaya Tambahan Lainnya
Kemudian, untuk mengetahui biaya per unit:
Landed Cost per Unit = Total Landed Cost ÷ Jumlah Unit
Rumus ini dapat disesuaikan dengan kondisi transaksi. Jika ada biaya yang sudah termasuk dalam harga pengiriman atau ditanggung supplier, jangan menghitungnya dua kali.
Contoh Perhitungan Landed Cost Produk Impor
Sekarang kita gunakan contoh sederhana.
Anda membeli:
1.000 unit produk
Harga supplier:
50 RMB per unit
Total harga barang:
1.000 × 50 RMB = 50.000 RMB
Asumsi kurs:
Rp2.300 per RMB
Nilai barang:
50.000 × Rp2.300 = Rp115.000.000
Kemudian terdapat biaya lain:
Biaya pengiriman dan biaya terkait = Rp15.000.000
Biaya tambahan yang dialokasikan ke shipment = Rp5.000.000
Maka total landed cost:
Rp115.000.000 + Rp15.000.000 + Rp5.000.000
= Rp135.000.000
Jumlah barang:
1.000 unit
Landed cost per unit:
Rp135.000.000 ÷ 1.000
= Rp135.000 per unit
Jadi, meskipun harga supplier hanya setara Rp115.000 per unit, biaya produk sampai lokasi tujuan menjadi sekitar Rp135.000 per unit.
Selisih Rp20.000 per unit berasal dari biaya tambahan yang tidak terlihat pada harga supplier.
Mengapa Landed Cost per Unit Harus Dihitung?
Total landed cost penting untuk mengetahui kebutuhan modal. Namun, landed cost per unit lebih mudah digunakan untuk menentukan harga jual dan margin.
Misalnya:
Total landed cost = Rp135 juta
Jumlah barang = 1.000 unit
Maka:
Rp135 juta ÷ 1.000 = Rp135.000 per unit
Jika harga jual produk adalah Rp200.000, maka selisih sebelum biaya penjualan adalah:
Rp200.000 − Rp135.000 = Rp65.000 per unit
Namun, jangan langsung menganggap Rp65.000 sebagai keuntungan bersih karena masih ada biaya setelah produk siap dijual.
Landed Cost Tidak Sama dengan Keuntungan Bersih
Landed cost berfokus pada biaya untuk mendapatkan produk sampai lokasi tujuan. Setelah barang siap dijual, masih terdapat biaya lain seperti:
- Biaya marketplace
- Komisi penjualan
- Iklan
- Packaging
- Diskon
- Retur
- Biaya operasional
- Biaya tenaga kerja
- Biaya penyimpanan
Sebagai contoh:
Harga jual = Rp200.000
Landed cost = Rp135.000
Selisih = Rp65.000
Jika biaya penjualan dan operasional yang dialokasikan sebesar Rp30.000 per unit, keuntungan yang tersisa adalah:
Rp65.000 − Rp30.000 = Rp35.000
Angka tersebut jauh berbeda dari perkiraan awal Rp85.000 jika importir hanya mengurangi harga supplier dari harga jual.
Perhitungkan Perubahan Kurs dalam Landed Cost
Bagi importir yang melakukan pembayaran dalam RMB, kurs merupakan komponen penting dalam perhitungan biaya impor.
Misalnya harga produk:
50 RMB per unit.
Jika kurs Rp2.300:
50 × Rp2.300 = Rp115.000
Jika kurs berubah menjadi Rp2.400:
50 × Rp2.400 = Rp120.000
Terdapat kenaikan Rp5.000 per unit.
Jika jumlah pembelian mencapai 5.000 unit:
Rp5.000 × 5.000 = Rp25.000.000
Artinya, perubahan kurs dapat memberikan dampak besar terhadap kebutuhan modal dan margin.
Karena itu, gunakan asumsi kurs yang realistis dan perbarui perhitungan ketika transaksi benar-benar dilakukan.
Buat Simulasi Landed Cost dengan Beberapa Skenario
Untuk produk yang akan diimpor dalam jumlah besar, jangan hanya membuat satu perhitungan.
Buat beberapa skenario, misalnya:
Skenario 1: Kurs Rp2.300
Skenario 2: Kurs Rp2.350
Skenario 3: Kurs Rp2.400
Kemudian bandingkan total landed cost dan margin pada setiap skenario.
Simulasi ini membantu mengetahui apakah produk masih menguntungkan ketika kurs berubah kurang menguntungkan.
Jika margin langsung hilang hanya karena perubahan kecil pada kurs atau biaya pengiriman, produk tersebut mungkin memiliki ruang margin yang terlalu tipis.
Bandingkan Air Cargo dan Sea Cargo Berdasarkan Total Biaya
Jangan hanya membandingkan tarif air cargo dan sea cargo.
Air cargo biasanya lebih cepat, tetapi biaya per kilogram atau per volume dapat lebih tinggi. Sea cargo dapat lebih efisien untuk volume tertentu, tetapi waktu pengirimannya cenderung lebih panjang.
Pilihan terbaik bukan selalu metode dengan tarif pengiriman paling rendah.
Pertimbangkan juga:
- Kecepatan perputaran stok
- Kebutuhan pasar
- Risiko kehabisan barang
- Modal yang tertahan
- Kapasitas penyimpanan
- Nilai produk
- Batas waktu penjualan
Jika pengiriman lebih cepat membuat stok segera terjual dan modal lebih cepat berputar, biaya yang sedikit lebih tinggi mungkin tetap masuk akal.
Hubungkan Landed Cost dengan Jumlah Pesanan
Jumlah order dapat memengaruhi biaya per unit, terutama jika terdapat biaya shipment tetap.
Misalnya biaya shipment tetap sebesar Rp5 juta.
Jika Anda mengimpor 500 unit:
Rp5 juta ÷ 500 = Rp10.000 per unit
Jika Anda mengimpor 1.000 unit:
Rp5 juta ÷ 1.000 = Rp5.000 per unit
Artinya, biaya tetap dapat tersebar ke lebih banyak unit ketika volume meningkat.
Namun, bukan berarti semakin banyak barang selalu lebih baik. Anda tetap perlu memperhatikan:
- Permintaan
- Modal
- MOQ
- Kapasitas penyimpanan
- Kecepatan penjualan
- Risiko stok mati
- Biaya penyimpanan tambahan
Tujuannya adalah menemukan jumlah pesanan yang menghasilkan biaya per unit masuk akal tanpa membuat modal terlalu lama tertahan.
Perhatikan Berat dan Volume Produk
Dua produk dengan harga supplier yang sama belum tentu memiliki landed cost yang sama.
Misalnya:
Produk A:
Harga supplier Rp100.000
Berat 200 gram
Produk B:
Harga supplier Rp100.000
Berat 2 kilogram
Jika biaya logistik dipengaruhi oleh berat atau volume, Produk B dapat memiliki landed cost jauh lebih tinggi.
Karena itu, saat memilih produk impor, jangan hanya melihat harga supplier. Perhatikan juga:
- Berat per unit
- Dimensi kemasan
- Volume total
- Risiko barang rusak
- Kebutuhan packing tambahan
- Efisiensi ruang dalam pengiriman
Produk yang ringan dan ringkas sering kali lebih mudah menghasilkan biaya logistik per unit yang efisien.
Evaluasi Produk dengan Margin Tipis secara Lebih Ketat
Semakin tipis margin produk, semakin penting cara menghitung landed cost produk impor dilakukan secara akurat.
Misalnya:
Harga jual = Rp150.000
Landed cost = Rp120.000
Selisih = Rp30.000
Sedikit kenaikan biaya cargo, kurs, pajak, atau biaya penjualan dapat membuat margin semakin kecil.
Produk dengan margin tipis bukan berarti selalu tidak layak. Namun, produk tersebut membutuhkan pengendalian biaya, perencanaan stok, dan strategi harga yang lebih ketat.
Gunakan Landed Cost untuk Membandingkan Supplier
Landed cost dapat membantu membandingkan supplier secara lebih objektif.
Misalnya:
Supplier A:
Harga produk = Rp100.000
Biaya pengiriman = Rp20.000
Total = Rp120.000
Supplier B:
Harga produk = Rp95.000
Biaya pengiriman = Rp30.000
Total = Rp125.000
Jika hanya melihat harga supplier, Supplier B terlihat lebih murah.
Namun, setelah seluruh biaya diperhitungkan, Supplier A menghasilkan landed cost yang lebih rendah. Karena itu, keputusan sourcing sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga produk, tetapi juga total biaya sampai barang tiba di lokasi tujuan.
Bandingkan Produk Berdasarkan Biaya Akhir, Bukan Harga Awal
Konsep yang sama berlaku ketika membandingkan dua produk.
Produk A:
Harga supplier = Rp80.000
Landed cost = Rp110.000
Produk B:
Harga supplier = Rp90.000
Landed cost = Rp105.000
Jika hanya melihat harga supplier, Produk A terlihat lebih murah. Namun, setelah seluruh biaya diperhitungkan, Produk B justru memiliki biaya akhir yang lebih rendah. Dengan menggunakan landed cost, keputusan pembelian menjadi lebih objektif dan tidak mudah dipengaruhi oleh harga awal yang terlihat murah.
Buat Template Perhitungan Landed Cost di Spreadsheet
Importir dapat membuat spreadsheet sederhana untuk menghitung biaya impor setiap produk.
Kolom yang dapat digunakan antara lain:
- Nama produk
- Supplier
- Harga dalam RMB
- Kurs
- Jumlah unit
- Nilai barang
- Biaya pengiriman domestik
- Biaya pengiriman internasional
- Asuransi
- Bea dan pajak
- Clearance
- Handling
- Biaya tambahan
- Total landed cost
- Landed cost per unit
- Harga jual
- Margin
Dengan template tersebut, setiap produk baru dapat dianalisis menggunakan format yang sama. Data juga lebih mudah dibandingkan ketika Anda memiliki banyak SKU atau beberapa pilihan supplier.
Gunakan Landed Cost untuk Menentukan Harga Jual
Setelah landed cost diketahui, Anda dapat menentukan harga jual berdasarkan target margin.
Secara sederhana, harga jual dapat disusun dari:
Landed Cost + Biaya Penjualan + Target Keuntungan
Namun, harga akhir tetap perlu dibandingkan dengan kondisi pasar. Jangan menentukan harga hanya berdasarkan keinginan mendapatkan margin tertentu jika konsumen tidak mampu menerima harga tersebut.
Karena itu, gunakan landed cost bersama:
- Riset kompetitor
- Analisis permintaan
- Strategi positioning
- Biaya marketplace
- Biaya promosi
- Daya beli target konsumen
Landed Cost Membantu Menghindari Kesalahan Impor
Bayangkan Anda menemukan produk China dengan harga sangat murah.
Supplier menawarkan:
30 RMB per unit
Produk tersebut terlihat menarik karena kompetitor di Indonesia menjualnya seharga Rp120.000.
Namun, setelah dihitung:
Harga barang = Rp69.000
Logistik = Rp25.000
Biaya lainnya = Rp15.000
Landed cost = Rp109.000
Jika masih ada biaya penjualan Rp20.000, ruang keuntungan menjadi sangat kecil.
Tanpa menghitung landed cost, produk tersebut terlihat sangat menarik. Setelah seluruh biaya diperhitungkan, kondisinya ternyata berbeda. Inilah fungsi utama landed cost: bukan sekadar menghitung biaya, tetapi membantu menghindari keputusan impor berdasarkan angka yang tidak lengkap.
WX Cargo dan Perhitungan Biaya Logistik Impor
Dalam proses impor, biaya pengiriman merupakan salah satu komponen utama dalam menghitung total biaya produk. WX Cargo menyediakan layanan pengiriman dari China ke Indonesia melalui berbagai pilihan, termasuk air cargo dan sea cargo, serta layanan gudang konsolidasi, repacking, dan door to door. Untuk barang dari beberapa supplier, proses konsolidasi dapat membantu mengatur pengiriman agar lebih terorganisir. Bagi importir, informasi mengenai biaya dan metode pengiriman dapat menjadi salah satu input dalam menghitung estimasi landed cost sebelum melakukan order. Tetap perhatikan bahwa komponen biaya dapat berbeda berdasarkan jenis barang, metode pengiriman, volume, berat, layanan, dan kondisi transaksi.
Kesimpulan
Cara menghitung landed cost produk impor tidak cukup hanya dengan mengonversi harga supplier dari RMB ke rupiah. Anda perlu menghitung seluruh biaya yang muncul sampai barang tiba di lokasi tujuan, termasuk harga produk, kurs, pengiriman domestik, freight internasional, asuransi, bea dan pajak yang berlaku, clearance, handling, konsolidasi, serta pengiriman ke gudang.
Dengan mengetahui landed cost, Anda dapat:
- Menentukan HPP secara lebih realistis
- Menentukan harga jual
- Menghitung margin
- Membandingkan supplier
- Membandingkan air cargo dan sea cargo
- Menentukan jumlah pesanan
- Mengevaluasi kelayakan produk
- Menghindari kesalahan dalam mengambil keputusan impor
Yang paling penting, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan harga supplier. Produk yang terlihat murah di China belum tentu murah setelah sampai Indonesia. Sebaliknya, supplier dengan harga sedikit lebih tinggi belum tentu lebih mahal jika biaya logistik dan komponen lainnya lebih efisien.
Sebelum melakukan impor, biasakan menghitung:
Harga Barang → Kurs → Logistik → Biaya Terkait → Total Landed Cost → Landed Cost per Unit → HPP → Margin
Dengan pendekatan tersebut, Anda dapat mengetahui biaya sebenarnya secara lebih jelas dan membuat keputusan pembelian berdasarkan angka yang lebih realistis. Dalam bisnis impor, harga murah bukan selalu berarti biaya murah. Yang lebih penting adalah mengetahui berapa sebenarnya biaya produk sampai siap Anda jual.



