Harga produk dari supplier China tidak selalu berada di angka yang sama. Hari ini sebuah produk mungkin ditawarkan dengan harga tertentu, tetapi beberapa waktu kemudian harganya bisa berubah. Perubahan tersebut bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari harga bahan baku, jumlah pesanan, kurs, biaya produksi, hingga kebijakan supplier.
Bagi importir, perubahan harga supplier bisa menjadi masalah jika harga jual di Indonesia tidak bisa langsung ikut naik. Misalnya Anda menjual sebuah produk dengan harga Rp50.000. HPP sebelumnya Rp25.000. Kemudian supplier menaikkan harga produk sehingga HPP Anda menjadi Rp29.000. Jika harga jual tetap Rp50.000, margin otomatis berkurang. Karena itu, importir perlu memiliki strategi untuk menghadapi perubahan harga, bukan hanya mencari supplier dengan harga termurah.
Kenapa Harga Supplier Bisa Berubah?
Ada banyak alasan mengapa harga sebuah produk dari China dapat berubah.
Beberapa di antaranya:
- Harga bahan baku meningkat
- Biaya tenaga kerja berubah
- Jumlah order berbeda
- Perubahan MOQ
- Perubahan spesifikasi produk
- Perubahan packaging
- Kondisi pasar
- Kurs mata uang
- Kapasitas produksi supplier
Karena itu, jangan menganggap harga yang diberikan supplier hari ini akan selalu sama untuk order berikutnya. Harga tersebut sebaiknya dianggap sebagai bagian dari kondisi pembelian saat itu.
Jangan Langsung Menurunkan Margin
Ketika supplier menaikkan harga, reaksi pertama yang sering dilakukan adalah tetap mempertahankan harga jual. Tujuannya agar produk tetap kompetitif. Namun, jika kenaikan harga supplier cukup besar, keputusan tersebut dapat membuat margin semakin tipis.
Misalnya:
HPP awal: Rp20.000
Harga jual: Rp40.000
Margin kotor: Rp20.000
Kemudian HPP naik menjadi Rp25.000.
Jika harga jual tetap Rp40.000, margin turun menjadi Rp15.000.
Jika kenaikan tersebut terus terjadi, bisnis bisa tetap terlihat ramai tetapi keuntungan sebenarnya semakin kecil. Karena itu, perubahan HPP perlu selalu diperhatikan.
Tentukan Batas Harga Supplier
Salah satu cara sederhana menghadapi fluktuasi harga adalah menentukan batas harga yang masih bisa diterima. Misalnya Anda mengetahui bahwa produk tersebut masih menarik untuk dibeli selama harga supplier tidak melebihi Rp20.000 per unit. Ketika harga mencapai Rp21.000, Anda bisa melakukan evaluasi. Ketika mencapai Rp23.000, mungkin sudah waktunya mencari supplier alternatif. Dengan memiliki batas tersebut, Anda tidak perlu mengambil keputusan secara spontan setiap kali harga berubah.
Jangan Hanya Memiliki Satu Supplier
Supplier alternatif dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi kenaikan harga.
Misalnya:
Supplier A: Rp20.000
Supplier B: Rp21.000
Supplier C: Rp22.000
Jika Supplier A tiba-tiba menaikkan harga menjadi Rp25.000, Anda sudah memiliki referensi harga dari supplier lain. Hal ini juga membuat posisi Anda dalam negosiasi menjadi lebih kuat. Namun, supplier alternatif tetap perlu diverifikasi dari sisi kualitas, MOQ, kapasitas, dan lead time.
Gunakan Data Harga Historis
Jangan hanya mencatat harga supplier saat melakukan pembelian. Simpan juga riwayat harga.
Misalnya:
Januari: Rp18.000
Februari: Rp18.500
Maret: Rp19.000
April: Rp21.000
Dengan data tersebut, Anda dapat melihat apakah kenaikan harga hanya terjadi sekali atau memang memiliki tren tertentu. Riwayat harga juga dapat membantu ketika melakukan negosiasi dengan supplier.
Bedakan Kenaikan Sementara dan Permanen
Tidak semua kenaikan harga harus langsung membuat Anda mengganti supplier. Jika supplier mengatakan harga naik karena kondisi tertentu yang bersifat sementara, Anda bisa mempertimbangkan untuk menunggu atau melakukan pembelian dengan jumlah yang lebih terukur. Namun jika kenaikan terus terjadi dalam beberapa periode, Anda perlu mengevaluasi kembali struktur biaya produk.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah supplier ini masih murah?”
Tetapi:
“Apakah produk ini masih menguntungkan dengan harga sekarang?”
Negosiasi Berdasarkan Volume
Jika volume pembelian Anda meningkat, gunakan hal tersebut sebagai bagian dari negosiasi. Misalnya sebelumnya Anda membeli 300 pcs. Setelah produk berkembang, Anda mampu membeli 1.000 pcs. Anda bisa menanyakan apakah supplier dapat memberikan harga yang lebih baik. Supplier mungkin memiliki struktur harga berbeda berdasarkan jumlah pembelian. Namun, jangan meningkatkan jumlah order hanya demi mendapatkan diskon. Pastikan volume tersebut memang sesuai dengan kemampuan penjualan.
Jangan Terlalu Bergantung pada Harga Lama
Kesalahan lain adalah menggunakan harga pembelian sebelumnya sebagai patokan selamanya. Misalnya bulan lalu Anda membeli produk dengan harga Rp18.000. Kemudian Anda menghitung bisnis berdasarkan angka tersebut untuk beberapa bulan ke depan. Padahal supplier sudah menaikkan harga menjadi Rp21.000. Jika perhitungan bisnis tidak diperbarui, margin yang Anda bayangkan bisa berbeda dengan margin sebenarnya. Karena itu, HPP perlu diperbarui ketika terdapat perubahan harga yang signifikan.
Evaluasi HPP Secara Berkala
Setiap perubahan harga supplier sebaiknya diikuti dengan perhitungan ulang HPP.
Misalnya:
Harga barang: Rp20.000
Biaya logistik: Rp5.000
Packaging: Rp2.000
Biaya lainnya: Rp3.000
HPP: Rp30.000
Jika harga barang naik Rp3.000, HPP bisa berubah menjadi Rp33.000.
Perubahan Rp3.000 terlihat kecil.
Namun jika volume penjualan mencapai 5.000 pcs, dampaknya menjadi:
Rp3.000 × 5.000 = Rp15 juta
Karena itu, perubahan kecil per unit bisa menjadi signifikan ketika volume bisnis semakin besar.
Pertimbangkan Penyesuaian Harga Jual
Jika kenaikan supplier sudah membuat margin terlalu kecil, salah satu pilihan adalah menyesuaikan harga jual.
Namun, jangan menaikkan harga tanpa melakukan riset.
Lihat:
- Harga kompetitor
- Kekuatan brand
- Kualitas produk
- Permintaan pasar
- Posisi produk
- Sensitivitas pelanggan terhadap harga
Jika produk memiliki keunggulan yang jelas, kenaikan harga mungkin lebih mudah diterima akan tetapi, jika produk sangat mudah dibandingkan dengan kompetitor, kenaikan harga yang terlalu tinggi dapat membuat pelanggan berpindah.
Cari Efisiensi di Bagian Lain
Tidak semua kenaikan harga supplier harus dibebankan kepada pelanggan. Anda juga bisa mencari efisiensi di bagian lain.
Misalnya:
- Mengoptimalkan packaging
- Mengurangi biaya operasional
- Mengatur konsolidasi barang
- Mengubah metode pengiriman
- Negosiasi biaya supplier
- Mengurangi produk dengan margin rendah
Misalnya harga supplier naik Rp2.000, tetapi Anda berhasil menghemat Rp1.000 dari proses logistik. Dampak kenaikan HPP menjadi lebih kecil.
Optimalkan Pengiriman
Biaya logistik juga dapat memengaruhi kemampuan bisnis menghadapi perubahan harga supplier. WX Cargo menyediakan pilihan pengiriman seperti air cargo dan sea cargo, serta layanan gudang konsolidasi, repacking, dan door to door. Jika membeli dari beberapa supplier, konsolidasi barang dapat menjadi salah satu opsi untuk mengatur pengiriman secara lebih efisien. Namun, metode pengiriman tetap harus disesuaikan dengan jenis barang, volume, urgensi, dan struktur biaya bisnis. Tujuannya bukan selalu mencari ongkos kirim paling murah, tetapi mencari kombinasi biaya dan waktu yang paling sesuai.
Gunakan Strategi Pembelian Bertahap
Ketika harga supplier sedang tidak stabil, pembelian bertahap dapat menjadi salah satu pilihan. Daripada langsung membeli jumlah yang sangat besar, Anda bisa menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan stok dan kondisi harga. Strategi ini membantu mengurangi risiko membeli terlalu banyak ketika harga sedang tinggi. Namun, strategi tersebut juga harus mempertimbangkan MOQ dan lead time supplier.
Jangan Menimbun Barang Hanya Karena Harga Naik
Ketika supplier mengumumkan kenaikan harga, importir mungkin tergoda membeli sebanyak mungkin dengan harga lama. Strategi tersebut bisa berhasil jika produk memang memiliki penjualan yang sangat stabil. Namun, jika permintaan ternyata turun, Anda justru memiliki stok terlalu banyak. Jadi, keputusan membeli lebih banyak harus berdasarkan data penjualan, bukan hanya ketakutan terhadap kenaikan harga.
Buat Skenario Harga
Agar lebih siap, Anda bisa membuat beberapa skenario.
Misalnya:
Skenario 1
Harga supplier tetap.
HPP Rp25.000.
Skenario 2
Harga supplier naik 10%.
HPP menjadi sekitar Rp27.000.
Skenario 3
Harga supplier naik 20%.
HPP menjadi sekitar Rp29.000.
Kemudian lihat apakah produk masih menguntungkan dalam setiap kondisi. Jika bisnis hanya menguntungkan ketika harga supplier berada di kondisi paling rendah, produk tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi.
Kapan Harus Mengganti Supplier?
Tidak semua kenaikan harga berarti Anda harus pindah supplier.
Pertimbangkan pergantian jika:
- Harga terus meningkat
- Kualitas tidak ikut meningkat
- Supplier tidak transparan
- Supplier sulit diajak negosiasi
- Ada alternatif dengan kualitas setara
- Margin sudah terlalu kecil
- MOQ semakin tidak sesuai
Namun, jangan mengganti supplier hanya karena menemukan harga sedikit lebih murah. Pastikan kualitas dan kemampuan supplier baru memang sesuai.
Kapan Harus Mengganti Produk?
Ini merupakan keputusan yang lebih besar. Jika harga supplier terus meningkat sementara harga pasar Indonesia tidak bisa dinaikkan, margin bisa semakin tertekan. Pada titik tertentu, mungkin lebih baik mencari produk lain.
Misalnya sebelumnya:
HPP: Rp25.000
Harga jual: Rp50.000
Kemudian HPP naik menjadi Rp35.000.
Jika pasar tidak memungkinkan harga jual naik dan biaya lain tetap sama, produk tersebut mungkin sudah tidak semenarik sebelumnya. Jangan mempertahankan produk hanya karena sebelumnya pernah memberikan keuntungan besar. Bisnis harus mengikuti kondisi aktual.
Kesimpulan
Fluktuasi harga supplier merupakan salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam bisnis impor dari China. Harga supplier dapat berubah karena berbagai faktor, sehingga importir tidak sebaiknya menggunakan harga lama sebagai dasar perhitungan selamanya.
Strategi yang dapat dilakukan antara lain mencatat riwayat harga, menentukan batas harga, memiliki supplier alternatif, melakukan negosiasi, mengevaluasi HPP, mengoptimalkan biaya logistik, dan menyesuaikan harga jual jika diperlukan.
Yang paling penting adalah jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan perubahan harga per unit tetapi lihat dampaknya terhadap HPP, margin, cash flow, dan kemampuan produk bersaing di pasar Indonesia. Dengan sistem pembelian yang terukur dan supplier alternatif yang sudah disiapkan, bisnis akan lebih siap menghadapi perubahan harga.
Pada akhirnya, tujuan menghadapi fluktuasi harga bukan untuk memastikan harga supplier selalu murah. Tujuannya adalah memastikan bisnis tetap menguntungkan meskipun kondisi harga berubah.



